Selasa, 20 Agustus 2019
Dany Garjito | Cesar Uji Tawakal : Sabtu, 03 Agustus 2019 | 19:00 WIB

Mobimoto.com - Tak hanya menguntungkan perusahaan, sederet manfaat dari layanan ojek online (ojol) juga membawa efek yang signifikan bagi masyarakat.

Efek tersebut terasa bagi konsumen, penjual beraneka macam masakan kuliner dan tentu saja bagi mitra pengendara.

Salah satunya adalah Pak Bagong. Pria paruh baya tersebut membagikan kisah mengharukan semasa ia pertama kali narik ojol.

Bukan hal mudah, pengendara Gojek pertama di Jogja ini mengungkapkan lika-liku kehidupan yang ia alami saat menginjakkan kaki di dunia ojol.

Sebelum menjadi mitra, Pak Bagong sempat menjadi seorang pengamen badut dan juga dalang bahkan saat usianya sudah menginjak 59 tahun.

Pak Bagong saat peresmian logo, jaket serta helm baru di Jogja Expo Center (3/8/19). (Mobimoto.com/Cesar Uji Tawakal)

Tak lagi berada di usia yang muda, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat kesulitan mengoperasikan gadget Android yang menjadi modal untuk mencari pelanggan.

"Saya tidak bisa menggunakan aplikasi waktu itu. Selama pekan pertama saya selalu minta bantuan untuk mengoperasikan smartphone Android. Ternyata dengan smartphone saya belajar banyak. Saya juga menyempatkan diri untuk mempromosikan diri sehingga saya punya banyak pekerjaan sambilan dan pelanggan. Saya juga sempat mewakili Jogja untuk dikirim ke Singapura oleh Gojek." imbuhnya.

Festival apresiasi mitra Gojek. (Mobimoto.com/Cesar Uji Tawakal)

Selain menjadi pengendara ojol, Pak Bagong juga membuka sebuah warung mie ayam yang modalnya ia kumpulkan selama menjadi ojol. Warung tersebut pun ia daftarkan menjadi mitra dan dirinya memperoleh banyak pesanan.

"Pernah saat itu saya butuh duit untuk membayar sekolah. Kebetulan anak saya kecil-kecil, yang gede sekarang baru mau kuliah. Waktu itu saya sangat butuh uang, kemudian saya mendapat order makanan Pizza. Setelah sampai ke lokasi pelanggan ternyata rumahnya besar. Sang pemilik rumah pun mengajak ngobrol." tutur Pak Bagong diwarnai isak tangis haru.

"Saat itu pesanannya senilai Rp 250 ribu. Sang pelanggan bercerita bahwa tamunya tidak jadi datang sehingga ia memberikan makanan tersebut kepada saya dan juga sebuah amplop. Setelah saya buka ternyata isinya Rp 500 ribu padahal kebutuhan saya hanya Rp 300 ribu." ujarnya sambil menitikkan air mata.